Sore Terakhir Menunggu Pulang
Hidayat
Matahari sudah berada di ujung tanduk. Cahaya merah tembaga mewarnai langit. Burung-burung terbang kembali ke sarang. Orang-orang mulai memadati jalanan. Pekerja kantoran, pelajar, pedagang tanpa terkecuali. Namun, jam pulang kantor tidak memengaruhi perfeksionis Rudi.
Matanya menatap pada statistik kinerja kantor di layar monitor. Tangannya bergerak terampil di atas keyboard. Otaknya bekerja keras menghitung keuangan kantor. Satu dua rekannya sudah mengemasi barang.
Seseorang menepuk bahunya. “Belum pulang, pak Rudi?” Tanya rekan kerjanya. Rudi menoleh, senyum terbit di wajahnya. “Ah, naggung pak. Sebentar lagi selesai. Daripada nanti saya disuruh lembur sama bos.” Rudi kembali menatap layar monitor.
“Yaudah kalau gitu saya duluan.” Rekannya melangkah meninggalkan Rudi. “Hati-hati, pak.” Ucap Rudi. Sudah menjadi kebiasaan Rudi untuk menyelesaikan segala pekerjaan kantor sebelum pulang. Ia tidak ingin waktu istirahatnya terganggu.
Klik! Rudi menekan tombol enter. “Akhirnya selesai juga.” Rudi berkemas. Ia mematikan komputer, membuang kertas-kertas bekas coret-coretan, meregangkan tubuh. “Lah, sudah jam lima ternyata.” Matanya membulat.
Rudi melangkah meninggalkan kantor menuju basement. Ia menyapa satpam kantor. Bersenandung ria, langkahnya ringan. Langkahnya berhenti tepat di sebelah motor Astrea Classic miliknya. Tangannya merogoh saku, membuka isi tas. “Kunci motor gue taruh dimana?” Gumam Rudi.
Napas Rudi naik turun. Pikirannya kalut, mencoba mengingat letak kunci motor. “Pak Rudi, ini kunci motor bapak ketinggalan di kubikel kantor.” Satpam kantor mengalurkan kunci motornya.
Rudi tersenyum, napasnya menjadi lega. “Wah, terima kasih, pak. Untung ada bapak, saya kira hilang dimana.” Rudi menerima kunci motornya. Segera ia memacu motornya meninggalkan basement.
Jalanan benar-benar macet. Antrian panjang kendaraan mengular sejauh mata memandang. Sahut-sahutan klakson menjelma bak simfoni orkestra. Rudi memilih pergi ke pusat jajanan serba ada (Pujasera) dekat kantornya. Meskipun ramai, ia tetap menikmati rutinitasnya.
Saat Rudi hendak menghampiri lapak kue klepon langganannya, matanya menatap bayang-bayang seseorang yang tidak asing. Langkahnya terhenti, dahinya berkerut. Bapak? Gumamnya.
Pikiran Rudi melayang ke memori lima tahun lalu. Saat ia hendak memutuskan merantau ke Ibu kota. Menolak ajakan bapaknya meneruskan lahan sawah keluarga. Rudi bertengkar hebat dengan bapaknya sebelum merantau. Ibu Rudi hanya diam melihat dua orang terkasihnya adu kuat argumen.
Perkelahian hampir terjadi antara Rudi dan bapaknya. Hingga adik Rudi turun tangan. Memilih mengurus sawah, hingga Rudi bisa mencoba peruntungan di Ibu kota. Sebelum berangkat ibu Rudi berpesan supaya tiap enam bulan pulang ke rumah. Namun, hingga kini pesan itu tak pernah sekalipun ia turuti.
Diantara orang-orang yang berlalu lalang di Pujasera. Kenapa ada bapak disini? Rudi semakin bingung. Didorong rasa penasaran yang kuat, ia melangkah menuju tempat bapaknya berdiri.
Tangan Rudi menyibak orang-orang yang menghalangi langkahnya. Semakin dekat Rudi, semakin ia mempercepat langkah. Itu benar-benar bapak ucapnya dalam hati. Tangan Rudi menepuk bahu bapak. Hatinya berdesir antara rindu, dan perasaan bersalah.
“Ada apa, mas?” Tanya kakek penjual cendol. Dahi Rudi berkerut. “Lah, bukannya tadi…” Gumam Rudi. “Mau beli cendol, mas?” Kakek penjual cendol mengangkat sebungkus cendol. “Nanti aja, pak. Saya lagi nyari orang.” Tolak Rudi sopan.
Mata Rudi menyapu setiap sudut Pujasera. Ia menyipitkan mata, mencari bapak. “Itu bapak!” Rudi segera melangkah cepat menuju depan Pujasera. Bapaknya berjalan keluar. Napas Rudi menderu, tangannya semakin kasar mendorong orang-orang. Satu dua berteriak tidak terima. Rudi tidak peduli. Air mata menumpuk di kelopak mata.
“Bapak!” Rudi berteriak. Membuat orang-orang di sekitar menatapnya heran. Rudi memegang bahu bapak. “Pak, saya masih kuliah.” Ucap orang yang Rudi pegang bahunya. Mata Rudi membulat, napasnya naik turun. “Maaf, mas.” Ia melepas pegangannya. “Tadi bukannya bapak?!” Jantung Rudi berdegup kencang. Pikirannya masih belum bisa mencerna keadaan.
Notifikasi ponselnya berdering. Nomor tak dikenal menghubunginya. Rudi ingin mematikan panggilan tersebut. Namun, hatinya menyuruhnya untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Halo” Rudi memulai panggilan. “Mas Rudi, bapak mas. Bapak!” Ucap seseorang di seberang telepon. Rudi tahu ini suara adiknya. “Bapak kenapa, dek?” Suara Rudi bergetar. Tangis pecah di seberang telepon. “Bapak sekarat, mas. Bapak mau ngomong sama mas. Hiks… Bapak pengen mas pulang.” Suara parau adiknya menggema di telinga Rudi. Napas Rudi tertelan di tenggorokan.
“Ba-bapak kenapa, dek?” Tanya Rudi. “Bapak sakit jantung, mas. Sudah lima tahun sejak mas meninggalkan rumah, bapak menyimpan penyakit ini sendiri.” Suara adik Rudi tertahan sejenak. “Tiap sore bapak selalu duduk di teras rumah, menunggu kepulangan mas. Tiap malam bapak nanya kabar, mas.” Air mata meleleh membahasi muka Rudi. Kakinya gemetar.
“Tiap hari, mas. Bapak pengen ketemu, mas. Pengen minta maaf soal sikap bapak terhadap mas lima tahun lalu. Sekarang, mas. Bapak.” Adik Rudi sudah tak sanggup melanjutkan pembicaraan. Isak tangis semakin terdengar jelas di telinga Rudi.
“Jadi selama ini…” Rudi membatin dalam hati. Ia pikir bapak sudah tidak sayang padanya. Rudi pikir ia terlalu jahat untuk menjadi anak bapak. Sikap Rudi yang tidak mau menuruti kemauan bapak. Perkataan Rudi yang menyakiti hati bapak.
“Ya Tuhan.” Rudi terduduk lemas di depan Pujasera. Telepon masih tersambung. Rudi ingat saat bapak memukulnya, menyuruhnya minggat dari rumah. Rudi ingat saat ia hampir memukul bapaknya. “Ya Tuhan, bapak!” Rudi menangis hebat.
“Mas, bapak mau ngomong.” Ucap Adik Rudi. Rudi mengusap mata, mengatur napas. “Halo, pak” Rudi mengawali salam. “Mas, ini kamu mas Rudi.” Panggil bapak yang disusul tangisan Rudi. Rudi mengangguk “I-iya, pak.”
“Rudi. Pulang ya nak. Bapak kangen sama kamu, ibu sama adik kamu juga kangen. Kami semua nunggu kepulangan kamu, nak. Sekalipun kamu belum sukses, kamu belum bisa buktiin ke bapak pilihanmu dulu. Pulang ya nak.” Suara bapak semakin lemah. Air mata semakin membasahi pipi Rudi. Ingus mulai keluar. Rudi mengangguk.
Sore itu ia berjanji akan segera pulang. Meninggalkan segala urusan di Ibu kota. Meminta izin ke kantor. Namun.
“PAK! BAPAK!” Suara di seberang semakin keras, dan panik. Rudi menerka-nerka apa yang terjadi. “Bapak” Rudi memanggil bapak. “Mas, bapak butuh penganan khusus, mas cepat pulang. Hari ini juga mas, sebelum semua terlambat mas.” Adik Rudi memutus telepon.
Rudi benar-benar menyesal sekarang. Ia memukul kuat dadanya. Mencoba menghilangkan perasaan perih di hati. “Ya Tuhan.” Ucap lirih Rudi. Rudi mengacak-acak rambut.
Semua orang yang menatapnya merasa iba, hingga seorang wanita memberinya sebotol air mineral. Rudi berterima kasih menerimanya. Ia teguk habis air tersebut. Napasnya perlahan tenang. Ia kumpulkan niat kembali ke rumah. Ego yang dulu membentuk dinding tebal kini roboh. Penyesalan menyelimuti hatinya.
Malam itu Rudi pulang ke rumah. Sebelum semua terlambat, sebelum bapaknya pergi. Ia pacu sekencang-kencangnya motor Astrea membelah malam. Namun, takdir memilih akhir cerita lainnya. Membuat Rudi benar-benar menyesalinya seumur hidup. Membuatnya tidak mampu memaafkan dirinya sendiri.
Malam itu. Tepat saat Rudi sampai di rumah, saat ia melangkah memasuki kamar bapak. Saat mata mereka beradu sekian detik. Senyuman tulus terukir di wajah bapak. Selepas itu pula bapak pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan Rudi yang mematung sesaat.
Tangis pecah di kamar bapak. Rudi memeluk tubuh bapaknya, mendekapnya seakan tidak pernah melepasnya. Tangis Rudi semakin kencang, suaranya semakin parau. Di langit kamar arwah bapak tersenyum lega, anak sulungnya akhirnya pulang ke rumah. Satu hal yang ia inginkan sebelum benar-benar pulang ke dekapan Sang Pencipta.




